Saturday, 2 March 2013

Air Mata RASULULLAH S.A.W



Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yangberseru mengucapkan salam.

'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkanbadan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yangternyata sudah membuka mata dan bertanya padaFatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'

'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekaliini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu,Rasulullah menatap puterinya itu denganpandangan yang menggetarkan.Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajahanaknya itu hendak dikenang.

'Ketahuilah, dialah yang menghapuskankenikmatan sementara, dialah yang memisahkanpertemuan di dunia.Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimahpun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakankenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnyasudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruhkekasih Allah dan penghulu dunia ini.

'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?',tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikattelah menanti ruhmu.'Semua syurga terbuka lebar menantikedatanganmu,' kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 

'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibrillagi.

'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'

'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernahmendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkansyurga bagi siapa saja, kecuali umatMuhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

(bacalah dngan nada yang sedih)

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam,Ali yang disampingnya menunduk semakin dalamdan Jibril memalingkan muka.

'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkanwajahmu Jibril?'Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karana sakit yang tidak tertahankan lagi.

'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkansesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya.

'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku''peliharalah shalat dan peliharalah orang-oranglemah di antaramu.'

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Nota:Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnyaagar timbul kesadaran untuk mengingat maut danmencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.

Amalkan berselawat 10 kali di waktu pagi dan 10 kali di waktu petang setiap hari.

No comments: